Pemuda Indonesia Bagian Dari Pahlawan Adalah Bagian Dari Sejarah Indonesia

Oleh : Riska Nurapriyani, S.Pd

Graphic1

Sumpah merupakan sebuah ucapan yang memberikan tanggung jawab besar kepada seseorang yang mengucapkannya, di Negara Indonesia terkenal  sumpah yang sudah tidak asing lagi bagi para bangsanya, sumpah tersebut adalah Sumpah Pemuda. Sumpah pemuda memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi bagi bangsa Indonesia, untuk itu menarik sekali dalam bahasan artikel saya kali ini, saya akan menyajikan dan mengungkapkan tentang sumpah pemuda. Karena mungkin masih banyak pemuda-pemudi Indonesia yang belum mengenal sumpah itu sendiri. Setiap kali kita memperingati hari sumpah pemuda, kita perlu memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT bahwa bangsa Indonesia pada tahun 1928 telah dikaruniai generasi muda yang sangat peduli akan nasib dan masa depan bangsanya. Tepat 87 tahun yang lalu, para pemuda bangsa kita telah mengikrarkan tekad untuk bersatu, melalui sumpah pemuda yang berisi pengakuan berbangsa satu, bangsa indonesia; bertanah air satu, tanah air indonesia; dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa indonesia. Dalam sejarah perjuangan bangsa indonesia dapat kita catat bahwa sumpah pemuda telah berhasil mempersatukan bangsa Indonesia serta mengantarkan bangsa indonesia kepada kemerdekaannya. Selain itu, dapat pula kita catat bahwa sumpah pemuda telah juga berhasil mematahkan upaya terpecah-belahnya bangsa Indonesia melalui berbagai gerakan kesukuan selama dasa warsa lima puluhan dan mematahkan upaya G-30S/PKI tahun 1965 untuk meruntuhkan proklamasi kemerdekaan bangsa indonesia.

Pada saat itu, hari kedua Kongres Pemuda Indonesia II Muhammad Yamin sedang gundah. Mereka belum menghasilkan suatu kesepakatan apa pun. Sementara, hari itu Kongres akan ditutup dan sejumlah pidato sepanjang 2 hari Kongres dari berbagai utusan pemuda yang hadir seperti dari Jong Java, Jong Soematranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond, Pemoeda Indonesia, Jong Celebes, Jong Ambon, Pemoeda Kaoem Betawi, dan lainnya masih belum cukup untuk mencapai pada kesimpulan. Yamin sendiri hadir di Kongres sebagai utusan Jong Sumatranen Bond. Pada hari pertama, dia juga mendapat kesempatan berbicara di hadapan ratusan pemuda yang hadir. Dalam kapasitasnya sebagai utusan organisasi, tugas Yamin boleh dikatakan selesai. Namun, dia juga merangkap sebagai Sekretaris Panitia Kongres. Mahasiswa tahun pertama Rechts Hooge School ini merasa, membuat rumusan hasil Kongres adalah tugasnya. Saat memasuki sesi terakhir Kongres, otak Yamin makin keras berpikir. Dia tak lagi peduli dengan apa yang disampaikan Mr Sunario yang tengah berpidato. Dia sibuk berpikir sembari mencoret-coret di secarik kertas. Ketua Panitia Kongres, Soegondo Djojopoespito, yang duduk disebelah Yamin, agaknya tak begitu memperhatikan kegundahan pemuda berusia 25 tahun itu. Sebelum Sunario mengakhiri pidatonya dalam acara yang dihelat diGedung Katholieke Jongenlingen Bond, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Yamin menoleh ke arah Soegondo dan menyerahkan secarik kertas. Dengan suara pelan, kepada sang ketua Yamin mengatakan bahwa tulisan di kertas itu merupakan rumusan darinya tentang resolusi pemuda Indonesia. Tak lama Soegondo membacanya, tanpa banyak bicara dia menyatakan setuju dan memberikan paraf. Kertas itu bergeser ke tangan Amir Sjarifudin dari Jong Bataks Bond yang juga menjadi Bendahara Panitia Kongres. Sama dengan Soegondo, Amir pun menyatakan setuju. Kertas itu pun terus berpindah tangan sampai semua utusan pemuda yang hadir menyatakan setuju.Di akhir pertemuan, Soegondo pun membacakan rumusan tersebut di depan utusan pemuda dengan tambahan penjelasan dari Yamin. Malam itu juga, sebelum Kongres ditutup, semuanya sepakat untuk menjadikan rumusan itu sebagai ikrar yang kini kita kenal sebagai Sumpah Pemuda.

Seperti yang tertulis di Museum Sumpah Pemuda yang berada di Gedung Sekretariat PPI Jl. Kramat Raya 106 Jakarta Pusat. Ikrar itu berisi tiga baris pengakuan dari para pemuda-pemudi Indonesia yang berisi :

Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Dengan ditulisnya Ikrar tersebut dan mengingat perjuangan rakyat Indonesia lewat berbagai bentuk dan cara (antara lain : Budi Utomo, Sarekat Islam, Sarekat Dagang Islam, Indische Party, ISDV, PKI, PNI, kemudian GAPI dan Gerindo) maka nyatalah bahwa Sumpah Pemuda adalah tonggak sejarah yang amat penting bagi perjalanan bersama bangsa kita. Dalam perjalanan perjuangan ini telah ikut serta banyak tokoh lokal dan nasional, dari berbagai suku dan agama serta aliran politik. Ada yang dari kalangan Islam, kristen Katolik dan Protestan, nasionalis, sosialis, komunis dan humanis. Mereka bersatu dalam Sumpah Pemuda, dan juga dalam berbagai perjuangan melawan Belanda, sampai lahirnya kemerdekaan tahun 1945.

Namun, memperingati Hari Sumpah Pemuda adalah sesuatu yang hambar, sesuatu yang kosong, atau tidak artinya, kalau dilepaskan dari konteks sejarah yang melahirkannya. Sumpah Pemuda sudah menjadi alat pemersatu bangsa Indonesia yang amat ampuh dalam perjuangan melawan Jepang dan Belanda. Revolusi Agustus 1945 telah dicetuskan oleh berbagai golongan pemuda yang menjunjung tinggi-tinggi Sumpah Pemuda. Bahkan pertempuran besar-besaran di kota Surabaya saat itu,

10 November 1945 menjadi salah satu dampak kobaran dari Sumpah Pemuda.  Pertempuran ini merupakan pertempuran pertama setelah Proklamasi Kemerdekaan di proklamirkan oleh Bung Karno pada tanggal 17 Agustus 1945. Pada saat itu Mayor Jenderal Robert Mansergh menggantikan kedudukan Brigadir Jenderal Mallaby yang telah meninggal karena terbunuh dalam pertempuran. Ultimatum yang telah di keluarkan oleh Mayor Jenderal Robert Mansergh yang berupa penyerahan senjata bagi para pejuang dan para pimpinan rakyat Indonesia seraya mengangkat tangan dan meletakkan persenjataanya di tempat dan batas waktu yang telah Mayor Jenderal tentukan yaitu pada pukul 06.00 tanggal 10 bulan November 1945. Seluruh rakyat dan para pejuang kemerdekaan indonesia menolak dengan tegas tentang ultimatum yang telah Mayor Jenderal keluarkan, karena ultimatum yang di keluarkan tersebut di anggapnya sebagai penghinaan dan pelecehan terhadap badan perjuangan yang telah di bentuk dengan alasan pada waktu itu bahwa Republik Indonesia telah berdiri. Selain telah terbentuknya TKR atau Tentara Keamanan Rakyat, berbagai organisasi yang di ambil dari berbagai kalangan seperti kalangan pemuda, pelajar dan mahasiswa sebagai organisasi bersenjata yang betujuan untuk menolak masuknya bangsa asing ke tanah air tercinta. Setelah batas waktu ultimatum yang telah di tentukan berakhir  tepatnya pada pukul 6 pagi, maka para tentara Inggris meluncurkan berbagai serangan melalui laut, udara dan darat. Gedung-gedung pemerintahan yang terletak di Surabaya hancur akibat di bom, setelah hancurnya gedung-gedung pemerintahan para tentara Inggirs pun melanjutkan aksi penyerangannya ke 30.000 infanteri, kapal perang, pesawat terbang dan tank.

Penyerangan tentara Inggris dengan skala besar, mengira bahwa dalam jangka waktu tiga hari kota surabaya akan takluk dengan serangan yang telah tentara inggris lakukan, namun seorang pelopor dari kalangan masyarakan yaitu Bung Tomo, ia sangat berpengaruh besar dalam masanya dalam meningkatkan semangat juang para pemuda Indonesia khususnya para pemuda Surabaya untuk melakukan perlawanan yang tanpa kenal takut dan menyerah.

Selain dari kalangan pemuda, pelajar dan mahasiswa yang ikut memperjuangkan, tokoh-tokoh agama dari berbagai pondok pesantren di daerah jawa dan sekitarnyapun seperti KH. Wahab Hasbullah dan KH. Hasyim Asy’ari ikut serta dengan cara mengerahkan para santrinya dan para penduduk sipil. Karena pada waktu itu para penduduk sipil tidak patuh dan tidak mempercayai pemerintahan, karena mereka lebih patuh terhadap para ulama maka pemerintah mengajak para tokoh-tokoh agama untuk ikut serta mengusir para penjajah. Pada awalnya pertempuran bersekala besar tersebut berlangsung lama karena ketidak patuhannya warga sipil terhadap pemerintah RI, sehingga mengakibatkan banyaknya korban dari kalangan sipil, namun seiring berjalannya waktu perlawanan yang keluar dari warga sipil lebih tertib dan tidak spontan dalam melakukan perlawanan.

Pertempuran hebat antara para pejuang Indonesia melawan tentara inggris telah membangkitkan keseluruhan rakyat indonesia untuk mengusir para penjajah dan mempertahankan kemerdekaan yang telah di raih. Ribuan korban yang meninggal dari kalangan pejuang sekitar 6.000 sampai 16.000 dan rakyat sipil yang mengungsi dari surabaya sekitar 200.000 orang. Banyak sekali para pejuang dan rakyat sipil pada pertempuran besar yang terjadi pada tanggal 10 November 1945 di surabaya ini kemudian Republik Indonesia (RI) mengenang hari bersejarah tersebut sebagai Hari Pahlawan.

Dan akhirnya setiap tetes keringat pada saat itu merupakan hasil pengorbanan dari para pahlawan yang notabene di dalamnya terdapat keikutsertaan para Pemuda-Pemudi Indonesia dalam memperjuangkan dan mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Leave a Reply

*

captcha *

Live Chat

Powered by themekiller.com